April 12, 2019

Sejarah

Dalam UU Kesehatan 36 tenaga Dalam Sistim Kesehatan Nasional yang didukung peraturan per UU (UU nomor 36 tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan) dikenal adanya Tenaga Kesehatan Lingkungan, yang terdiri dari Sanitasi Lingkungan, Entomolog Kesehatan dan Mikrobiolog Kesehatan. Namun demikian dalam perkembangannya dapat pula diperlukan jabatan fungsional lain dalam rumpun Kesehatan Lingkungan lain yang diperlukan. Sebagai contoh seperti Jabatan fungsional entomologi kesehatan sangat diperlukan mengingat bahwa kawasan tropis merupakan kawasan vector borne disease, baik Chikungunya, Demam Berdarah maupun malaria. Hal ini telah pula didukung adanya Loka Litbang dan BPRV. Area kajian maupun pelaksanaan program-program penyakit bersumber binatang seperti tikus rodent, bersumber binatang juga rabies, kelelawar avian flu burung, dan lain-lain memerlukan dukungan keahlian baik keilmuan maupun praktisi.

Demikian pula bidang garapan mikrobiologi lingkungan yang semakin berkembang, dengan adanya New Emerging Infectious Disease. Keahlian kesehatan lingkungan memerlukan pemikiran pengendalian mikroorganism sebelum kontak atau berinteraksi dengan manusia. Jabatan lain dapat bertambah sesuai dengan perkembangan jaman dan pasal 12 UU 36 tahun 2014 memungkinkan untuk bertambahnya jenis tenaga kesehatan lingkungan.

Dalam perspektif kesehatan lingkungan Indonesia sangat beragam, intinya masih mengalami double burden bahkan triple burden. Dengan demikian Indonesia memerlukan tenaga kesehatan lingkungan yang memiliki fokus beragam. Dengan kata lain diperlukan spesialisasi – sanitarian – HSE – Risk Manajemen baik auditor maupun programmer – entomologi kesehatan serta mikrobiologi kesehatan.

Di Indonesia terdapat 12 institusi yang memiliki Pendidikan Tingkat Sarjana Kesehatan Lingkungan yang sudah memiliki akreditasi Perguruan Tinggi. Yang pertama kali merintis Pendidikan Sarjana Kesehatan Lingkungan adalah Widyagama Husada. Menyusul STIKES Ibnu Sina dan kemudian Universitas Indonesia dan Institut Kesehatan Indonesia, Jakarta mereka tergabung dalam AIPTKLI atau PIPTKLI.

Environmenal Health Specialist Association sebagai organisasi profesi Kesehatan lingkungan yang bersifat independen dan dijiwai oleh kode etik Kesehatan Lingkunan dibentuk karena keprihatinan anak bangsa terhadap kondisi lingkungan yang ada di Indonesia maka pada tanggal 21 Juli 2008, di bentuklah Organisasi EHSA di Jakarta. Deklarasi ini dihadiri oleh bebrapa perguruan tinggi di Indonesia , antara lain UI, UNHAS, UNAIR, dan USU. Dan telah dicatatkan pada notaris atas nama Haji syarif siangan tanudjaja, SH dengan akta nomor 9 tanggal 12 Agustus 2009

Environmenal Health Specialist Association memiliki motto : Sustainable profesionalisme dalam Ilmu Kesehatan Lingkungan di Indonesia.

Semoga kami mampu berperan nyata. Amin.