April 12, 2019

Tentang

Dalam Undang – Undang Kesehatan No 36/2009 telah diamanatkan bahwa kesehatan lingkungan diselenggarakan untuk mewujudkan kualitas lingkungan yang sehat terhadap sarana sanitasi seperti di tempat –tempat umum, dilingkungan pemukiman, perumahan, hotel, sekolah, fasyankes, tempat pengolahan makanan, fasilitas umum dan sarana air minum, baik dalam situasi normal maupun dalam situasi darurat akibat bencana alam. Peraturan Pemerintah nomor 66 tahun 2015 tentang Kesehatan Lingkungan menjelaskan pengertian kesehatan lingkungan yang adalah upaya pencegahan penyakit dan/atau gangguan kesehatan dari faktor risiko lingkungan untuk mewujudkan kualitas lingkungan yang sehat baik dari aspek fisik, kimia, biologi, maupun sosial.

Dalam Sistim Kesehatan Nasional dikenal adanya tenaga kesehatan lingkungan. Undang Undang Tenaga Kesehatan secara eksplisit menyebutkan bahwa pelaku atau tenaga kesehatan adalah dokter, dokter gigi, Perawat Kesehatan Masyarakat dan Kesehatan Lingkungan. Dalam sistim pelayanan kesehatan utamanya puskesmas tenaga Kesehatan Lingkungan (khususnya sanitarian dan ahli kesehatan lingkungan) merupakan tenaga esensial dalam sistim pelayanan kesehatan. Dalam Sistim Kesehatan Nasional yang didukung peraturan per UU 36 (UU 36 Nakes 2014) dikenal adanya Tenaga Kesehatan Lingkungan adalah Entomolog Kesehatan dan Mikrobiologi Lingkungan.

Proses pergeseran permasalahan kesehatan lingkungan di Indonesia terus berlangsung. Selain itu issue disparitas antar wilayah barat Indonesia dan wilayah timur serta pulau Jawa dengan pulau pulau lain harus diselesaikan. Sebagian wilayah Indonesia masih memiliki masalah sanitasi dasar dan sebagian pencemaran lingkungan berkenaan dengan kegiatan industri maka mengacu kepada Naskah Akademik Kesehatan Lingkungan 2016 Sistim Kesehatan Nasional maka diperlukan penguatan Kompetensi Tenaga Kesehatan Lingkungan. Dalam sistim pelayanan kesehatan utamanya puskesmas tenaga Kesehatan Lingkungan merupakan tenaga esensial dalam sistim pelayanan kesehatan.

Di Indonesia terdapat 13 institusi yang memiliki Pendidikan Tingkat Sarjana Kesehatan Lingkungan yang sudah memiliki akreditasi Perguruan Tinggi LamPTKes B dan tergabung dalam AIPTKLI atau PIPTKLI, oleh karena itu diperlukan suatu wadah organisasi yang kuat untuk mendukung perkembangan Kesehatan Lingkungan di Indonesia. Sumber daya manusia (SDM) kesehatan lingkungan merupakan bagian penting yang terintegrasi dalam sistem kesehatan nasional. Dalam perannya SDM kesehatan banyak terlibat dalam upaya peningkatan derajat kesehatan lewat peran strategis dari fasilitas pelayanan kesehatan primer maupun sekunder. Untuk itu maka pengelolaan SDM kesehatan harus berasaskan prinsip pengelolaan yang mengedepankan mutu Kompetensi Tenaga Kesehatan Lingkungan.

Tujuan Penyelenggaraaan Program Studi Kesehatan Lingkungan adalah membentuk manusia yang cerdas, memahami permasalahan kesehatan lingkungan dengan dasar pengetahuan yang komprehensif dan paripurna untuk membantu menyehatkan bangsa melalui kemampuan akademik dan ketrampilan dibidang kesehatan lingkungan. Mereka adalah kelompok yang telah dianggap cukup menguasai dasar pendidikan akademik untuk menjadi professional level 7 yang diharapkan, untuk menghadapi dinamika perkembangan sosial ekonomi global serta ilmu dan teknologi. Pendidikan kesehatan masyarakat dengan proporsi 40% Kesehatan Lingkungan tidaklah cukup untuk menjadi professional kesehatan lingkungan yang memiliki basis pengetahuan kesehatan lingkungan.

Organisasi Kesehatan Lingkungan EHSA dan PPTKLI telah mengidentifikasi 269 bahan kajian untuk dipelajari oleh calon mahasiswa Program Studi Kesehatan Lingkungan. Demikian perkambangan Ilmu Kesehatan Lingkungan di Kementerian Lingkungan hidup dan Kehutanan sebagai Pengendali Ekosistem Hutan, Perencana Ekosistem, Penilai Analis Mengenai Dampak Lingkungan bidang Kesehatan Lingkungan, Auditor Kesehatan Lingkungan dan Risiko Kesehatan Lingkungan dan Surveyor Pemetaan        Ekosistem perlu pengambangan dan penguatan Kompetensi pada bidang GIS  Pemetaan specialist Kesehatan Lingkungan, permodelan prediksi risiko lingkungan dan bidang bidang lain yang semakin berkembang

Peran organisasi profesi memiliki urgensi vital berkaitan dengan peran untuk membina, mendidik, serta melindungi SDM kesehatan yang bernaung dibawah masing-masing organisasi profesi. Organisasi profesi harus memastikan bahwa hal-hal yang berkaitan dengan mutu kompetensi SDM kesehatan adalah merupakan wewenang penuh dari organisasi profesi. Pada titik inilah peran organisasi profesi lebih difokuskan sebagai learning organization yang mengatur hal-hal berkaitan dengan perencanaan, pengadaan, pendayagunaan, pembinaan, dan pengawasan anggota profesi, demi menjamin ketersediaan mutu kompetensi SDM kesehatan yang handal, tangguh dan professional.

Perguruan tinggi penyelenggara Pendidikan program studi kesehatan Lingkungan telah membentuk Organisasi Profesi Kesehatan Lingkungan (EHSA) dan Perkumpulan Perguruan Tinggi Penyelenggara Pendidikan Kesehatan Lingkungan (PPTKLI) atau Asosiasi Perguruan Tinggi Kesehatan Lingkungan. EHSA dan PPTKLI telah beberapa kali menyelenggarakan pertemuan.

EHSA sebagai organisasi profesi Kesehatan lingkungan mengalami pasang surut dalam perkembangannya, sehingga pada pertemuan pada tanggal 20 Desembar 2018 di Universitas Dian Nuswantoro Semarang maka dilantik Ketua EHSA pada periode 2019-2023 dan segera dibentuk pengurus baru yang akan dilaksanakan di STIKES Ibnu Sina Batam pertengahan bulan maret 2019. Sebagai organisasi profesi yang berbasis Kesehatan lingkungan dan kesibukan para anggota dan pengurus tentulah sangat besar pengaruhnya terhadap jalannya roda organisasi.   Kepengurusan Periode 2019-2023, dengan format dan struktur yang praktis, jelas, tegas, ringkas dan lugas. Namun tetap memberikan ciri khasnya sebuah organisasi profesi. Yaitu sebuah Organisasi Profesi Kesehatn Lingkungan Environmental Specialist Enviromental Association.